Isra Mi’raj dan Teori Einstein


Isra’ mi’raj bukanlah kisah perjalanan antariksa. Aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian isra’ mi’raj. Namun, Isra’ mi’raj mengusik keingintahuan akal manusia untuk mencari penjelasan ilmu. Aspek aqidah dan ibadah berintegrasi dengan aspek ilmiah dalam membahas isra’ mi’raj. Inspirasi saintifik Isra’ Mi’raj mendorong kita untuk berfikir mengintegrasikan sains dalam aqidah dan ibadah. Einstein berpostulat bahwa konsep tentang waktu bersifat relatif. 

einstein1Ia menggabungkan antara ruang dan waktu, sehingga kita tidak hanya punya ruang, tetapi ruang-  waktu. Teori Einstein tentang relativitas terbagi menjadi dua kelompok, yaitu teori relativitas  khusus dan teori relativitas umum.Relativitas khusus memastikan bahwa kecepatan membuat waktu menjadi relatif, sementara teori  ralativitas umum memostulatkan bahwa gravitasi membuat waktu menjadi relatif. Relativitas  khusus  membuktikan bahwa kalau seseorang bergerak dengan kecepatan V km/detik maka bagi  kita yang diam di bumi ini waktu seharinya akan sama dengan:

Dengan kecepatan cahaya c = 300.000 km/detik, jika ada seorang penerbang yang dapat melaju dengan kecepatan tinggi sebesar 298.000 km/detik, maka 24 jam baginya akan tercatat oleh kita sebagai 1.000 tahun.

Inilah inti relativitas khusus yang dinyatkan oleh Einstein bahwa waktu akan berlalu lebih lambat pada orang yang mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Di dalam media tempat makhluk bumi melewatinya selama 100 hari, mungkin akan ia lewati selama 50 hari dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya.

Kecepatan diatas jelas berada diluar jangkauan manusia. Roket pesawat luar angkasa  saja hanya dapat mendorong pesawat itu dengan kelajuan sekitar 15 km/detik.

Di dalam kitab suci Umat Islam, terdapat ayat yang menyatakan bahwa malaikat melesat dalam satu hari lamanya sama denga 50.000 tahun hitungan hari manusia.

Mengenai perjalanan Isra dan Mi’raj, Almarhum Prof. Musthafa Maraghi Rektor Magnificus Univeritas Al-Azhar Mesir yang legendaris itu menyatakan bahwa: “Perjalanan di muka bumi (Isra’) dan perjalanan ke langit (Mi’raj), kedua-duannya terjadi dalam satu malam.”.

Dimensi Tersembunyi dan Ruang Ekstra: Extra Dimensions & Hyperspace

Sejak Prof. Dr. Michio Kaku, Fisikawan Fenomenal keturunan Jepang membahas ruang hiper dalam bukunya, Hyperspace, tahun 1994, berbagai hasil penelitian antara tahun 2000 dan 2003 membahas lebih jauh berbagai unsur ruang hiper.

Alam Semesta Mungkin Terletak pada Membran

Alam semesta yang bisa kita lihat mungkin terletak pada sebuah membran atau selaput yang mengapung di dalam suatu ruang dimensional yang lebih tinggi. Dimensi-dimensi tambahan ini bisa menolong menyatukan forsa-forsa alam dan bisa berisi alam-alam semesta paralel.

Menurut definisi umumnya, membran adalah suatu lapisan lentur yang tipis, terutama dari jaringan kulit tanaman atau hewan. Dalam kaitan dengan lokasi alam semesta yang bisa dilihat, membran ini tampak seperti potongan keju yang punya ruang-waktu. Di dalam ruang-waktu membran inilah terletak alam semesta yang bisa kita lihat.

Alam semesta yang terletak pada membran dalam suatu kawasan berdimensi lebih tinggi boleh jadi adalah tempat kita tinggal.

Pikiran mendasar ini diuraikan dalam The Universes Unseen Dimensions (Scientific American August 2000 halaman 48-55) oleh Prof. Nima Arkani-Hamed, Prof. Savas Dimopoulos dan Prof. George Divali. Ketiga-tiganya mengembangkan teori tentang dimensi-dimensi tambahan ketika bekerja bersama-sama pada Universitas Stanford, AS, Februari 1998.

Prof. Arkani-Hamed Fisikawan keturunan Iran ini lahir di Houston (AS) tahun 1972 dan memperoleh gelar Doktor (Ph.D.) dalam ilmu fisika dari Universitas Kalifornia, Berkeley, tahun 1997. Dimopoulos asal Atena, Yunani, memperoleh gelar doktor dari Universitas Chicago (AS) dan menjadi profesor ilmu fisika pada Universitas Stanford sejak 1979.

Prof. Gia Divali berasal dari Georgia, suatu bekas republik Uni Soviet, dan memperoleh gelar doktor dalam ilmu fisika energi tinggi dan kosmologi dari Universitas Negeri Tbilisi, Georgia. Pada tahun 1998, dia menjadi asisten profesor ilmu fisika pada Universitas New York (AS).

Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu 

Isra’ mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha.

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tentang caranya, iptek tidak dapat menjelaskan.

Tetapi bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam hadits shahih. Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.

Kita hidup di alam yang dibatas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang –mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta satu dimensi waktu ).

Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana “buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha.

Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detil tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi.

Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah SAW juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti.

Sekadar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Sekadar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang, dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis).

Demikian juga alam tiga dimensi (ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di bidang yang berdimensi dua.

Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua (bidang) berbentuk U. Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya perlu menempuh jarak jauh. Kita yang berada di alam yang berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua, tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”.

Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari dimensi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua.

Bukankah isyarat di dalam Al-Quran dan Hadits juga menunjukkan hal itu. Malaikat dan jin tidak diberikan batas waktu umur, sehingga seolah tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai tempat karena tak dibatas oleh ruang. Rasulullah bersama jibril diajak ke dimensi malaikat, sehingga Rasulullah dapat melihat Jibril dalam bentuk aslinya (Baca QS 53:13-18).

Rasul pun dengan mudah pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tanpa terikat ruang dan waktu. Langit dalam konteks istra’ mi’raj pun bukanlah langit fisik berupa planet atau bintang, tetapi suatu dimensi tinggi. Langit memang bermakna sesuatu di atas kita, dalam arti fisik maupun non-fisik.

Sains Terintegrasi dengan Aqidah dan Ibadah

Kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk mencapai titik temu. Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan kesepakatan ada ada ketentraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fitrah, shalat hari raya, Shaum di bulan Syawal,  shaum Arafah)

Isra’ mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan pentingnya shalat lima waktu.

Wallohualambissawab.

Thanks To:

Prof. H. Thomas Djamaluddin, M.Sc., D.Sc.Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
Anggota Tim Tafsir Kauni Kementerian Agama-LIPI.

Kak Handika Satrio Ramadhan, M.Sc., Ph.D.
[Fisikawan Teori dan Kosmolog, Dosen Fisika UI]

Kak Khalid Fatmawijaya, S.Si.
[Peneliti Muda di The Abdus Salam International Center for Theoretical Physics, Italia]

7 pemikiran pada “Isra Mi’raj dan Teori Einstein

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s