Kalimat Efektif


A. Definisi Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlngsung dengan sempurna. Kalimat yang efektif mampu menggambarkan isi atau maksud yang disampaikannya secara lengkap dalam pikiran si pembaca.

B. Unsur-Unsur Kalimat Efektif

Dilihat dari sudut struktur, kalimat terdiri dari unsur, yakni berupa kata. Unsur itulah yang bersama-sama dan menurut sistem tertentu membangun struktur itu. Jadi, kata dalam hal ini dilihat dari fungsinya dalam membangun sebuah struktur, suatu kesatuan bentuk di dalam bahasa. Unsur-unsur kalimat yang dimaksud adalah:

1. Subyek

Subyek adalah unsur yang diperkatakan dalam sebuah kalimat. Kata-kata yang dicetak tebal pada contoh-contoh di bawah ini berfungsi sebagai subyek dalam kalimat yang bersangkutan.

Aku sebetulnya seorang artis.

Sukses yang kuperoleh dibidang lain, tidak lain karena nasib baik.

Pekerjaan itu tidak ku sukai.

Aku tidak puas dan keadaan ku jauh dari bahagia.

Tujuan dan ambisi mereka berbeda jauh dengan getaran jiwaku.

Dalam sebuah kalimat, sering kali terdapat kata-kata yang berfungsi mempertegas subyek.

 2. Predikat

Kata dalam sebuah kalimat berfungsi membritahukan apa, mengapa, atau bagaimana subyek tersebut.

Contoh:

Aku sebenarnya adalah seorang artis.

Kata artis tersebut menceritakan tentang “Aku” (predikat).

3. Pelengkap

Seringkali predikat sebuah kalimat harus didampingi oleh pelengkap, sehingga terjadilah suatu pernyataan yang lebih lengkap.

Contoh:

Adik menulis surat.

Bagian yang di cetak tebal pada contoh diatas aalah unsur kalimat yang berfungsi sebagai pelenkap dan terlihat pula bahwa didalam sebuah kalimat unsur pelengkap selalu berada di belakang kalimat.

4. Kata Perangkai

Unsur ini berfungsi merangkaikan dua unsur subyek, dua unsur predikat, atau dua unsur pelengkap didalam sebuah kalimat.

Contoh;

Tujuan dan ambisi mereka berbeda jauh dengan getaran jiwaku.

Kegemaranku ialah menulis dan melukis.

Unsur kalimat yang berfungsi sebagai kata rangkai ini sering diwakili oleh kata-kata dan, dengan, serta, beserta, bersama, dan juga.

5. Kata Penghubung

Unsur ini berfungsi untuk menghubungkan dua buah implemasi didalam sebuah kalimat.

Contoh;

Pekerjaan itu tidak ku sukai, tapi aku memperoleh penghasilan yang besar

Aku tidak puas dan keadaanku jauh dari bahagia

 6. Kata Modalitas

Unsur ini sering juga di sebut “kata warna”, berfungsi untuk mengubah keseluruhan arti sebuah kalimat.

Contoh;

Aku sebetulnya seorang artis.

Pekerjaan itu memang tidak ku sukai

Dengan masuknya kata yang bercetak tebal, maka pengertian kalimat-kalimat itu berubah secara keseluruhan.

7. Frase

Bentuknya merupakan sebuah kelompok kata dan sering kali berfungsi sebagai predikat untuk keperluan tertentu.

Contohnya:

Rapat akan di lanjutkan setelah makan siang      

Karena tak setuju, ia terpaksa mencari jalan lain

Semua kelompok yang bercetak tebal tersebut merupakan frase.

8. Klausa

Terbentuk dari sebuah kelompok kata yang mempunyai unsur-unsur subyek dan predikat saja.

Contohnya:

        Buku itu tak jadi saya beli karena harganya mahal

Sementara hujan masih turun, pekerjaan terpaksa di hentikan

9. Bentuk Absolut

Secara gramatical tidak punya hubungan apa-apa bentuk absolut dengan unsur-unsur lain dalam sebuah kalimat.

Contoh:

Tidak, orang tuanya bukan seorang penjahat

Sayang, setujukah kita kawin setelah aku di bebaskan?

C. Ciri-Ciri Kalimat Efektif

Untuk dapat mencapai keefektifan, suatu kalimat harus memenuhi paling tidak enam syarat berikut, yaitu adanya:

1. Kesepadanan

Yang dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.

Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti tercantum di bawah ini:

Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas.

Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.

Contoh:
a. Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Salah)
b. Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Benar)

Tidak terdapat subjek yang ganda.

Contoh:
a. Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen.
b. Saat itu saya kurang jelas.
Kalimat-kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara berikut :
a. Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
b. Saat itu bagi saya kurang jelas.

Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.

Contoh:

a.Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.

b. Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.

Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk dan kedua gantilah ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai berikut:
a. kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. Atau
Kami datang terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
b. Kakaknya membeli sepeda motor Honda, sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Atau Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Suzuki.

Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.

Contoh:
a.Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.
b. Sekolah kami yang terletak di depan bioskop Gunting.
Perbaikannya adalah sebagai berikut:
a. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
b. Sekolah kami terletak di depan bioskop Gunting
.

2. Keparalelan

Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:

  1. Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
  2. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.

Kalimat (a) tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu.

Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes.

Kalimat (b) tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut:

Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.

 3. Ketegasan

Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.

Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).

Contoh:

Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanannya ialah presiden mengharapkan.
Contoh:
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya Harapan presiden.
Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.

Membuat urutan kata yang bertahap

Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya:
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.

Melakukan pengulangan kata (repetisi).

Contoh:
Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.

Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan

Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.

Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).

Contoh:
Saudaralah yang bertanggung jawab.

 4. Kehematan

Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Peghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.

Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.

Contoh:

Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.

Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang.

Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut.
Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.    
Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang.

Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.

Perhatikan contoh:

a.Ia memakai baju warna merah.

b.Di mana engkau menangkap burung pipit itu?

Kata merah sudah mencakupi kata warna.
Kata pipit sudah mencakupi kata burung.

Kalimat itu dapat diubah menjadi
a. Ia memakai baju merah.
b. Di mana engkau menangkap pipit itu?

Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.

Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.

a.Dia hanya membawa badannya saja.

  1. Sejak dari pagi dia bermenung.

Kata naik bersinonim dengan ke atas.
Kata turun bersinonim dengan ke bawah.

Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi

a.Dia hanya membawa badannya.

b.Sejak pagi dia bermenung.

Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.

Contoh:
Bentuk tidak baku : para tamu-tamu, beberapa orang-orang

bentuk baku : para tamu, beberapa orang.

 5. Kecermatan

Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda.
Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut.

a.Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.

  1. Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.

Kalimat (a) memilikimakna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguran tinggi.

Kalimat (b) memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.

Perhatikan kalimat berikut.

Yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.

Kalimat ini salah pilihan katanya karena dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritakan. Kalimat itu dapat diubah menjadi
Yang diceritakan ialah putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.

6. Kepaduan

Yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.

  1. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidaksimetris.Oleh karena itu, kita hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.

Contoh:
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak keluar dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab

 

  1. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam

kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.

Contoh:

Surat itu saya sudah baca.

Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan.

Kalimat di atas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat itu berbentuk:

Surat itu sudah saya baca. 

Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.

 

  1. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentangantara predikat kata kerja dan objek penderita.
    Perhatikan kalimat ini :
    Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat.
    b. Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat.
    Seharusnya:
    a. Mereka membicarakan kehendak rakyat.
    b. Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.

7. Kelogisan

Yang dimaksud dengan kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.

D. Syarat yang Mendasari Kalimat Efektif

Menurut Gorys Keraf, kalimat yang efektif adalah kalimat yang memenuhi syarat-syarat berikut:

  • Secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembiara atau penulis.
  • Sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.

Bila kedua syarat ini dipenuhi maka tidak mungkin akan terjadi salah paham antara mereka yang terlibat komunikasi.

 

Referensi:

Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia.

Widyamartaya, A. 2003. Seni Menggayakan Kalimat. Yogyakarta: Kanisius

Satu pemikiran pada “Kalimat Efektif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s