Petualangan DIKCAR XXXI


Tahukah anda apa itu Dikcar? Dikcar kependekan dari Pendidikan Calon Anggota Racana. Jadi, Dikcar merupakan rangkaian kegiatan berupa pendidikan tentang kepramukaan untuk dapat menjadi anggota racana. Dikcar ada 2 yaitu Dikcar ruangan dan Dikcar lapangan. Perbedaannya, kalau Dikcar ruangan menjelaskan materi kepramukaan seperti Mountenering, IMPK (Ilmu Medan Peta dan Kompas), dll sedangkan Dikcar lapangan mempraktekan materi yang sudah diajarkan. Disini saya akan menceritakan pengalaman Dikcar Lapangan di Hutan Wanagama, Gunung Kidul, Yogyakarta.

-Hari Pertama (Tanggal 16 November 2014)-

Mentari terbit di ujung timur menyambut kami dengan senyuman. Tepat pukul 06.30 WIB kami tiba di Kampus, memulai kegiatan dengan Basmallah agar kegiatan lancar dan diberi keselamatan. Sebelum berangkat, kondisi peserta dan perlengkapan dicek terlebih dahulu. Apel pembukaan pun dimulai, Pembina Pramuka mengatakan “Life is adventure, Hidup adalah petualangan. Ikuti aturan mainnya maka petualangan ini akan terasa nikmat. Nikmatilah perjalanan ini, kamu akan merasakan sesuatu yang belum pernah kamu rasakan . Kamu tidak akan makan nasi selama 3 hari, hanya makan seadanya saja. ketika kembali pulang kamu akan merasa kangen dengan nasi, bersyukurlah kamu masih bisa makan nasi. Di luar sana masih banyak orang yang tak dapat makan nasi. Tetap semangat, Nikmatilah petualangan ini”.

Kami pun berangkat menuju Hutan Wanagama dengan bis. Pukul 11.30 kami sampai di sebuah desa untuk menunaikan Sholat Jum’at. Setelah sholat, kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Di sinilah petualangan kami dimulai, Hujan deras membasahi perjalanan ini. Dari ujung sepatu sampai celana membasahi tubuh kami, badan terasa dingin namun kami tetap melanjutkan perjalanan menuju Camp 1. Di tengah perjalanan kami berhenti di sungai untuk menunaikan sholat ashar. Kami sholat di atas bebatuan sungai terasa menyatu dengan alam. Bersujud kepada-Nya merasakan nikmat yang luar biasa, kami bersyukur masih bisa sholat walaupun di atas bebatuan.

Hari semakin sore, langit terlihat mendung tanda akan turun hujan lagi, kami bergegas melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, kami melewati terjalnya tebing-tebing, tanaman yang banyak durinya.  Hal yang kami pikirkan hanya berdoa agar dapat selamat melewati tebing ini. naik-turun kami lewati dengan semangat karena camp 1 semakin dekat. Akhirnya kami sampai di Camp 1, kami langsung mendirikan bivak (tenda darurat). Badan terasa pegal, kami istirahat sebentar sambil menikmati mie rebus dan suara katak yang meramaikan malam ini.

Setelah makan dan mendirikan bivak, kami belajar morse dengan senter tetapi hujan turun dan kegiatan morse ditunda. Akhirnya kami istirahat di bivak,sampai esok hari badan menggigil kedinginan karena tidur di tanah yang basah dengan matras sebagai alas.

-Hari ke-2 (Tanggal 17 November 2014)-

Hari ini terlihat begitu cerah, kicauan burung terdengar merdu, mentari bersinar di ujung timur. Kami memulai aktivitas dengan jogging mengelilingi hutan dilanjutkan dengan senam. Badan terasa kembali sehat setelah berolah raga, menghirup udara sejuk yang segar, menikmati indahnya pagi ini. Setelah berolah raga, kami pun sarapan dengan memasak mie lagi. Sungguh nikmat sekali makan tanpa nasi, 1 bungkus mie dimakan beberapa orang, hanya bisa menahan lapar.

Kali ini, kami akan belajar mountenering. Ada 3 permainan dalam mountenering ini yaitu naik prusik, turun hely dan meniti tali. Pertama kami merayap diatas tanah yang berlumpur dan disiram dengan air. Sebelum naik, kami melakukan persiapan dengan mengikatkan tali webing dipinggul, kemudian kami naik ke atas sampai puncak pohon. Untuk naik diperlukan teknik yang dinamakan naik prusik. teknik ini menggunakan 1 kaki yang ikat pada tali yang menggantung di pohon dan kaki lain untuk menyeimbangkan tubuh. Ketika naik, kaki yang terikat ditarik ke atas dkemudian ke 2 tangan menarik tali sampai ke puncak pohon, begitu juga ketika turun, ke 2 tangan menarik tali ke bawah kemudian kaki yang terikat ditarik ke bawah.

Naik prusik ini membutuhkan kehati-hatian, jika salah menarik/ mengikat tali di pinggul tidak kencang akan fatal, akibatnya akan jatuh. Setelah naik prusik di lanjut dengan meniti tali, kami meneliti tali di antara 2 pohon dan di tepinya ada jurang. Kami pun berhati-hati ketika meniti tali agar tidak jauh ke jurang.

Langit terlihat mendung, tanda akan turun hujan. Ketika kami mau melakukan turun helly, hujan pun turun membasahi kami sehingga permainan ini ditunda. Kami pulang ke Camp 1 lewat aliran sungai yang kering dan banyak bebatuan yang besar sehingga kami harus hati-hati agar tidak terpeleset. Kami lihat sekeliling kami banyak pepohonan yang besar dan lebat, akarnya terlihat panjang dan juga ranting pohon yang besar-besar. Saat menelusuri sungai, kami lihat ada banyak lubang tempat persembunyian ular, Kami terus berdoa agar tidak terjadi apa-apa. Akhirnya kami menemukan air terjun untuk membersihkan badan kami yang penuh lumpur.

Setelah bersih, kami kembali ke Camp 1 untuk packing dan mempersiapkan perjalanan menuju ke Camp 2. Untuk menuju ke Camp 2 kami diterjunkan langsung mencari sendiri lokasi Camp 2 yang sudah ditentukan di peta. Di sinilah petualangan mencari lokasi yang hanya di bekali peta dan kompas. Awalnya kami kebingungan mencari letak titik kami berada di peta, akhirnya kami menemukan koordinatnya dan melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan kami nyasar sepanjang kurang lebih 1 Km dari titik yang sebenarnya. Akhirnya kami kembali lagi ke jalan yang benar, dengan sisa tenaga yang ada dan lapar yang ditahan karena makan sedikit tapi kami tetap melanjutkan perjalanan dengan semangat.

Akhirnya kami sampai ke Camp 2 sebelum maghrib. Kami bergegas mendirikan bivak (tenda darurat) karena hujan sudah turun. Ketika kami mendirikan bivak, kami menemukan kalajengking di bawah pohon tapi kami biarkan saja, kalajengking tidak akan mengganggu jika kita tidak mengganggunya.

Malam ini adalah puncak kegiatan, api unggun🙂 sebelum api unggun dimulai kami mempersiapkan pensi (pentas seni). Malam semakin larut, udara semakin dingin, badan terasa pegal. Upacara api unggun pun dimulai, api unggun berkobar menghangatkan suasana. Di sekeliling kobaran api unggun, kami menampilkan pentas seni, ada yang baca puisi, menyanyi dan berbagai macam tepuk ala Pramuka. Pensi pun selesai diiringi dengan padamnya api unggun. Kami langsung tidur karena nanti dini hari kami akan di bangunkan untuk melanjutkan perjalanan.

-Hari Ke-3 (Tanggal 18 November 2014)-

Pukul menunjukkan 01.00 WIB, Kami bangun dan mem-packing semua yang ada di tenda dengan cepat. Seperti biasa, kami diberi renungan malam sampai shubuh tiba. Setelah sholat shubuh, kami jogging dan dilanjutkan dengan senam. Kami sarapan seperti biasa dengan memasak mie. Jiwa korsa sudah tertanam sehingga kami saling berbagi makanan dengan yang lain. kami makan bersama ditemani suara kicauan burung.

Kali ini, kami akan melakukan latihan SAR, sebelumnya kami diberikan arahan oleh fasilitator agar tidak salah dalam menangani korban. Kami pun mulai mencari korban dengan terlebih dahulu mencari titik awal kami berada di peta. Akhirnya kami menemukan korban dan bergegas menolongnya. Korban sedang pingsan, kami mencoba membangunkannya dan korban pun sadar. Kami tanya pada korban kronologis peristiwa yang dialami korban. Setelah kami tahu, kami mengobati luka korban dan membidai pergelangan tangan yang patah. Kaki korban terkilir sehingga kami membantu korban untuk berjalan menuju ke titik aman. Sampai di titik aman, kami memberi kode dengan semaphore kepada petugas PMI untuk di tangani lebih lanjut.

Dalam adat SAR, setelah menyelamatkan korban akan mengadakan makan besar. Sebelum makan besar, kami terlebih dahulu push-up di sungai sehingga badan kami basah semua. Setelah push-up, kami menceritakan kesan dan pesan selama 3 hari Dikcar ini. “Banyak pengalaman yang kami dapatkan selama dikcar ini, susah dan senang kami lalui bersama. Panas dan dingin menyelimuti kami. pesannya semoga Pramuka tetap jaya dan kami dapat mengabdi di masyarakat dengan penuh tanggung jawab”, ucap salah satu peserta Dikcar. Acara makan besar pun di mulai, kami memasak sisa mie dan makan jajan yang kami kumpulkan sebelum dikcar. Kami makan sampai kenyang, namun hujan turun lagi. Setelah makan, Upacara pengukuhan Tamu Racana pun di mulai, semua khidmat mengikuti upacara ini, akhirnya kami sah menjadi Tamu Racana tetapi belum menjadi Anggota Racana. Pelantikan Anggota Racana akan dilaksanakan sekitar pertengan bulan Desember 2014. Kami pulang dengan perasaan senang walaupun badan terasa pegal dan dingin karena basah kehujanan tetapi kami tetap semangat🙂

Sekian kisah pengalaman saya, semoga bermanfaat bagi yang membaca🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s