Pluralisme dan Pluralitas


A. Pengertian Pluralisme

Pluralisme memiliki pengertian “Majemuk” asal kata dari plural “lebih dari satu atau dapat di artikan plural itu adalah jamak”.Kata “pluralis” berasal dari bahasa Latin “plures” yang berarti “beberapa” dengan implilaksi perbedaan. Pluralisme dapat diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya keragaman pemikiran, peradaban, agama, dan budaya. Bukan hanya menoleransi adanya keragaman pemahaman tersebut, tetapi bahkan mengakui kebenaran masing-masing pemahaman, setidaknya menurut logika para pengikutnya.

Latar belakang munculnya paham pluralisme ini akibat reaksi dari tumbuhnya klaim kebenaran oleh masing-masing kelompok terhadap pemikirannya sendiri. Persoalan klaim kebenaran inilah yang dianggap sebagai pemicu lahirnya radikalisasi agama, perang dan penindasan atas nama agama. Konflik horisontal antar pemeluk agama hanya akan selesai jika masing-masing agama tidak menganggap bahwa ajaran agama meraka yang paling benar. Itulah tujuan akhir dari gerakan pluralisme,untuk menghilangkan keyakinan akan klaim kebenaran agama dan paham yang dianut, sedangkan yang lain salah.  Pluralisme adalah pandangan filosofis yang tidak mau mereduksi segala sesuatu pada satu prinsip terakhir, tetapi menerima adanya keragaman. Pluralisme meliputi bidang kultural, poitik dan agama. Terhadap pengertian yang bias dengan relativisme ini, tentu saja orang yang beragama tidak dapat menerima sepenuhnya. Oleh karena itu pemahaman yang berbeda terhadap ide pluralisme akan selalu terjadi di kalangan tokoh-tokoh agama.

Pluralisme agama memiliki dua makna, yaitu keberadaan kelompok yang berbeda-beda dalam masyarakat dan kebijakan yang menjunjung perlindungan dan penghargaan terhadap perbedaan tersebut.

B. Hubungan Pluralisme dan Pluralitas

Pluralitas adalah keragaman dalam sebuah wujud persatuan. keragaman,keunikan, dan parsial itu merupakan realitas yang tak terbantahkan. Secara sosiologis, manusia terdiri dari berbagai etnis dan budaya yang saling berbeda dan mengikatkan dirinya antara satu dengan lainnya. semuanya menunjukan adanya perbedaan, keragaman dan keunikan, namun tetap dalam persatuan. Perbedaan-perbedaan individu melebur menjadi satu kesatuan keluarga, keragaman keluarga melebur kedalam satu ikatan sosial, ke anekaan suku-suku terangkum dalam satu bangsa dan masyarakat dunia. keseluruhan persialitas itu adalah bagian dari pluralitas, pluralitas itu adalah wujud terbasar dari bagian-bagian persialitas tersebut.

Islam adalah agama fitrah yang berarti mengenal Allah dan beriman kepadanya adalah sesuatu yang telah ada dalam diri manusia sejak awal,pada dasarnya semua manusia dilahirkan dalam keadaan bersih atau jernih dan asli. Dalam islam pluralitas dibangun di atas tabiat asli atau kecenderungan individu dan perbedaan yang telah digariskan oleh Allah SWT. Fitrah merupakan sunatullah atau ketentuan Allah ia tidak dapat diubah atau digantikan tetapi dapat dibelenggu atau dipegang. Menurut kacamata konsep islam Al-Qur’an mensinyalir bahwa pluralitas merupakan ciptaan ilahi serta sunah azali dan abadi yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, itulah mengapa manusia tidak akan pernah menjadi satu tipe tertentu saja, itu mengapa mereka akan terus berbeda satu sama lain. Pada awalnya sejarah manusia dimulai dengan adam dan hawa sebagai umat yang satu namun kemudian umat yang satu ini berimplikasi menjadi banyak dengan syariat para rasul dan beragamnya risalah-risalah agama. Jadi jelas sudah pluralitas itu sudah ada sejak awal keberadaan manusia.Awal sejarah umat manusia adalah satu dalam hal aqidah ushul dan syariat agamanya. “Pada mulanya manusia adalah umat yang satu (agama yang satu)….” (QS AL-Baqarah 213). Pada periode yang kedua dimulailah prularitas risalah, rasulullah dan nabi-nabi. Karena beragamnya umat dan berkembang biak generasi-generasi agama mereka satu, namun syariat-syariatnya beragam begitupun dengan kitab suci mereka. Pluralitas syariat berada dalam perangkap satuan agama. Hal itu agar Allah SWT memberikan ketentuan hukum, melalui kitab-kitab suci yang beragam dan dengan syariat-syariat yang beragam pula, bagi umat yang beragam, tentang masalah yang menjadi perselisihan umat-umat itu. Dan, perbedaan disini alami sifatnya serta tidak tercela. Sedangkan perbedaan yang lain dalam tubuh umat yang satu, yang menjadi syariat penutup dan setelah datang penjelasan bagi kitab sucinya, adalah perbedaan dengan ikhtilaf yang terpuji atau alami, karena hal itu adalah ikhtilaf dalam syariat yang satu dan penutup, bukan ikhtilaf syariat-syariat umat risalah yang beragam.

Maka Allah memberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal mereka perselisihkan itu dengan kehendaknya.

Perbedaan-perbedaan syariat adalah kemajemukan yang alami dalam kerangka kesatuan agama yang satu. Sedangkan ikhtilaf dalam pokok-pokok aqidah agama adalah suatu pencerai-beraian yang menimbulkan perselisihan.

Hakikat sikap Al-Qur’an ketika pluralitas menjadi kemajemukan dalam kerangka kesatuan adalah sikap yang melihatnya sebagai sunah ilahiyah yang Allah SWT fitrahkan kepada manusia.

Pluralitas dan kemajemukan “bersifat alami” dalam diri manusia dan mereka diciptakan dengan kesiapan untuk itu serta ditakdirkan untuknya.

Faktor-faktor yang menimbulkan perbedaan yaitu faktor kasatuan kemanusiaaan yang menjadi ikatan persatuan mereka. Karena tidak mungkin manusia berbeda pada lahir mereka tetapi tidak berbeda pada batin mereka. Tidak mungkin juga jika suatu jenis dan macam telah disatukan, tapi elamen-elemennya tidak kunjung bertemu dan bersatu. Kerena manusia dalam asal fitrah mereka dan awal penciptaan mereka, telah berbeda-beda tapi bersatu, dan bersatu tapi berbeda-beda. Serta mereka berselisih tetapi mempunyai kesatuan pendapat, serta memiliki kesatuan pendapat tetapi berselisih pendapat.

Pluralitas dan manhaj-manhaj mempunyai fungsi pemikiran dan peradaban. Pemilihan di dalamnya serta darinya adalah pusat dan ukuran bagi perbedaan umat-umat aliran mahzab-mahzab dan unsurnya. Didalamnya mereka slaing berbeda dan memiliki ke-khasan masing-masing sesuai dengan apa yang mereka pilih. Dan di dalamnya pula terdapat ujian serta musibah, karena pilihan adalah cobaan dan ujian. Jika tidak ada pluralitas dalam syariat-syariat niscaya tidak ada tempat untuk “ pilihan-pilihan” ini. Pilihan ini adalah awal untuk berlomba bekompetisi dan saling mendorong diantara masing-masing pihak yang saling berbeda dalam memilih.

Memang dalam kehidupan ini kita dihadapkan oleh segala sesuatu yang beragam. Tidak ada yang satu baik itu dari segi manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan dan agama. Semua mengindikasikan adanya keberagaman atau pluralitas. Ras dan suku menunjukkan adanya pluralitas manusia, mazhab dan sekte menunjukkan adanya pluralitas pemahaman agama. Hindu, kristen, islam, yahudi dan nasrani menunjukkan adanya keberagaman pemeluk agama, partai politik, bentuk pemerintahan, dan ideologi menunjukkan adanya pluralitas dalam politik.

Memang kehidupan tidak dapat dipisahkan dari pluralitas, Allah S.W.T telah mengatakannya dalam al-Qur’an surat ar-Rum ayat 2, yang artinya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Allah telah menciptakan dan menakdirkan umat ini menjadi umat yang memiliki beragam pemahaman, hal ini sesuai dengan surat al-Hud ayat 118-119, yang artinya :

“Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berikhtilaf (berselisih pendapat). Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka … .”Al Hasan Al Bashri mengenai tafsirannya terhadap ayat 118-119 surat ar-Ruum menyatakan bahwa: “Seluruh umat manusia berselisih dalam beraneka ragam agama kecuali yang dirahmati oleh Rabbmu karena orang yang dirahmati tidak akan berselisih.” (Jami’ul Bayan 7/138 nomor 18715)

Sedangkan menurut Imam Qatadah rahimahullah,ayat tersebut menjelaskan : “Kalau Allah menghendaki, tentu Dia akan menjadikan seluruh umat manusia ini sebagai Muslimin.” (Jami’ul Bayan 7/137 nomor 18712)

Hal ini mengindikasikan bahwa kemajemukan itu memang ada dan wajib untuk mengimaninya namun tidak diperbolehkan untuk membenarkan ajaran-ajaran agama lain yang ada saat ini. Seperti pluralisme yang menganggap bahwa semua agama itu benar, jadi jalan menuju surga tidak hanya lewat islam saja melainkan melalui agam kristen, hindu, budha dan yahudi juga agama-agam lain dapat mengantarkan sesorang menuju kebahagiaan akhirat yaitu surga. Paham ini juga mengajarkan bahwa seperti apapun bentuk kegiatan peribadatan itu sejatinya tuhan yang manusia sembah adalah sama. Jadi paham ini menyamakan tuhan Allah, Al-masih, yahwe dan tuhan-tuhan yang lain itu adalah satu tuhan. Tentu paham ini sangat bertentangan dengan agama islam yang dalam ajarannya hanya dengan iman seseorang dapat masuk syurga. Sedangkan definisi iman sendiri adalah mengucapkan dengan lisan yaitu kalimat “syahadatain” yang berarti mengimani bahwa tiada Tuhan yang ber-hak disembah selain Allah dan bahwa rasul muhammad adalah utusan Allah, membenarkan degan lisan dan mengamalkan dalam bentuk ibadah dan kebaikan dengan anngota badan. Tentu pada dasarnya agama yang paling benar adalah islam. Allah telah menyinggungnya dalam surat al-imran ayat 19, yang artinya:

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.

Dan kita dilarang untuk menyamakan agama islam dengan yang lain, Allah denagn tuhan yang lain. Allah dalam firmannya mengatakan :

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata “Sesungguhnya Allah itu adalah Al-Masih putera Maryam”“… (QS. 5:17)

Jadi kita memang harus mentoleransi ajaran-ajaran agama yang lain, kita harus meyakini dan membenarkan adanya pluralitas dalam agama ,namun kita tidak boleh meyakini kebenaran ajarannya.

C. Contoh Puralisme

a. Positif

  1. Menghormati tradisi agama lain
  2. Menghormati jenazah agama lain
  3. Menghormati tetangga yang berbeda keyakinan

b. Negatif

  1. Berpandangan bahwa semua agama itu sama
  2. Lahir dari paham Sekulerisme, jadi menjalankan pemerintahan dengan syariat islam sangat dihalangi

Referensi :

Masdudi, Irwan.2011.Berislam Secara Toleran.Mizan Media Utama:Bandung

Imarah,Muhammad.1999.Islam dan Pluralitas.Gema Insani Press:Jakarta.

Machasin.2011.Islam Dinamis dan        Harmonis.LkiS:Yogyakarta

Nasution,Khairuddin.2012.Pengantar Study Islam.ACAdeMIA+TAZZAFA:Yogyakarta

Qaramaliki,Muhammad Hasan Qadran.2011.Al-Qur’an dan Pluralisme Agama.Sadra Press:Jakarta

Perhimpunan Pelajar Islam Lebanon.Diakses pada tanggal 25 November 2014. 16:15.http://ppilebanon.wordpress.com/about/redaksi-bulleti/pluralisme-agama-adalah-paham-yang-bertentangan-dengan-ajaran-islam/

Muqaddimah.Diakses pada tanggal 25 November 2014. 16:30.http://sulaimanibrahim.blogspot.com/2012/01/pluralisme-dalam-perspektif-islam.html

Gilig Guru Ennoble and Enable.Diakses pada tanggal 25 November 2014.17:00.https://gilig.wordpress.com/2010/01/05/perbedaan-antar

Gudangmakalhpai.Diakses pada tanggal 25 November 2014.17:15.http://gudangmakalahpai.blogspot.com/2011/05/pluralitas-dan-pluralisme-agama-di.htmla-pluralitas-agama-dengan-pluralisme-agama/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s