Epistemologi Keilmuan dalam Islam


A. Epistemologi

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yang berasal dari kata ‘episteme’ yang berarti pengetahuan dan ‘logos’ yang berarti teori. Maka berdasarkan bahasa epistemologi berari teori pengetahuan. Menurut pemakaian umum, epistemologi dapat dapat didefinisikan sebagai ‘mempelajari asal usul, atau sumber atau struktur, metode dan validitas (sahnya) pengetahuan. Berdasarkan pengertian seperti yang di sebutkan di atas, epistemologi filsafat hukum adalah islam adalah metode dan cara yang digunakan untuk menangkap pengetahuan ilmiah tentang nilai-nilai filosofis hukum islam. (Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, “Pengantar Studi Islam”, hlm 26)

B. Epistemologi Bayani

Bayani atau ‘explanatory’, secara etimologis, mempunyai pengertian penjelasan, pernyataan, ketetapan. Sedangkan secara terminologis, Bayani berarti pola pikir yang bersumber pada nash, ijma`, dan ijtihad. Dikatakan bahwa sumber epistemologi bayani adalah nas atau teks. Dengan kata lain, corak berpikir ini lebih mengandalkan pada otoritas teks, tidak hanya teks wahyu namun juga hasil pemikiran keagamaan yang ditulis oleh para ulama terdahulu. Pendekatan yang digunakan dalam nalar bayani ini adalah lughawiyah

Dalam pandangan Al-Jabiri, secara historis sistem epistemologi bayani merupakan sistem epistemologi yang paling awal muncul dalam pemikiran arab. Epistemologi bayani dominan dalam bidang keilmuwan pokok seperti filologi, yurisprudensi, ilmu hukum (fikih), ulum Al-Qur’an, teori dialektis (kalam) dan teori sastra nonfolosofis.

Dalam pandangan pola nalar bayani berlandaskan pada disiplin ilmu filologi, ilmu hukum (fikih), ulum al-Qur’an (interpretasi, hermeneutika, dan eksegesis), teologi dialektis (kalam) dan teori sastra nonfilosofis. Prinsip pola nalar bayani tersendiri adalah 1) infisal (diskontinu) atau atomistik, (2) tajwiz (tidak ada hukum kausalitas), dan (3) muqarabah (keserupaan atau kedekatan dengan teks). Bayani mendominasi dalam tradisi keilmuwan dilingkungan lembaga pendudukan islam. Sebab ada kecendrungan dijadikan hasil pemikiran keagamaan sebagai pijakan utama. Kerangka & proses berpikir dari perspektif bayani adalah sebagai berikut :

  1. Kerangka berpikir cenderung deduktif, yaitu berpangkal dari teks.
  2. Dalam keilmuan fikih menggunakan qiyas al-‘illah sementara dalam disiplin kalam menggunakan qiyas al-dalalah.
  3. Selain itu, corak berpikir bayani cenderung mengeluarkan makna yang bertolak dari lafadz, baik yang bersifat ‘am, khas, mushtarak, haqiqah, majaz, muhkam, mufassar, zahir, khafi, mushkil, mujmal, dan mutashabih.
  4. Metode pengembangan corak berpikir ini adalah dengan cara ijtihadiyah dan qiyas. Yang termasuk proses berpikir ijtihadiyah adalah istinbatiyah, istintajiyah, dan istidlaliyah, sementara yang dimaksud qiyas adalah qiyas al-ghayb ‘ala al-ghayb.

Fungsi Akal tersendiri bagi perspektif Bayani adalah sebagai berikut ini :

  1. Akal berfungsi sebagai pengekang atau pengatur hawa nafsu.
  2. Akal cenderung menjalankan fungsi justifikatif, repetitif, dan taqlidy.
  3. Otoritas ada pada teks, sehingga hasil pemikiran apa pun tidak boleh bertentangan dengan teks. Karena itu, dalam penalaran ini jenis argumen yang dibuat lebih bersifat dialektik (jadaliyah) dan al-‘uqul al-mutanasifah, sehingga cenderung defensif, apologetik, polemik, dan dogmatik.
  4. Hal ini antara lain dipengaruhi pola berpikir logika Stoia, bukan logika Aristoteles.
  5. Yang dijadikan sebagai tolok ukur kebenaran ilmu model bayani adalah adanya keserupaan atau kedekatan antara teks atau nas dengan realitas.

Seperti halnya teori-teori tentang keilmuan lainnya, cara nalar perspetif bayani memiki Kelemahan. Kelemahan nalar epistemologi bayani, yaitu ketika berhadapan dengan teks-teks keagamaan yang dimiliki oleh komunitas, kultur, bangsa atau masyarakat yang beragama lain, biasanya, corak berpikir ini cenderung bersifat dogmatik, defensif, apologetis, dan polemis dengan semboyan kurang lebih “right or wrong is my country“. Hal ini terjadi karena fungsi akal hanya untuk mengukuhkan dan membenarkan otoritas teks. Padahal, dalam realitasnya, seringkali terjadi ada jurang antara yang terdapat dalam teks dengan pelaksanaannya, sebab akan sangat bergantung pada kualitas pemikiran, pengalaman dan lingkungan sosial tempat teks tersebut dipahami dan ditafsirkan.

C. Epistemologi Burhani

Kata Burhani diambil dari bahasa arab, al-burhan yang berarti argumentasi yang kuat dan jelas. Menurut ulama ushul, al-burhan adalah sesuatu yang memisahkan kebenaran dari kebatilan dan membedakan yang benar dari yang salah melalui penjelasan.

Sumber pengetahuan dalam nalar burhani adalah realitas (al-waqi’) baik dari alam, sosial, dan humanities. Karena itu, lebih sering disebut sebagai al-‘ilm al-husuli. Yaitu, ilmu yang dikonsep, disusun dan disistematisasikan lewat premis-premis logika atau al-mantiq, bukannya lewat otoritas teks atau intuisi. (pokja) Epistemologi burhani menekankanvisinya pada potensi bawaan manusia secara naluriyah, inderawi, eksperimentasi, dan konseptualisasi. Jadi epistemologi burhani adalahepistemologi yang berpandangan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah akal. Akal menurut epistemologi ini mempunyai kemampuan untuk menemukan berbagai pengetahuan, bahkan dalam bidang agama sekalipun akal mampu untuk mengetahuinya, seperti masalah baik dan buruk (tansin dan tawbih). Epistemologi burhani ini dalam bidang keagamaan banyak dipakai oleh aliran berpaham rasionalis seperti Mu’tazilah dan ulama-ulama moderat.

Dalam filsafat, baik filsafat Islam maupun filsafat Barat istilah yang seringkali digunakan adalah rasionalisme yaitu aliran ini menyatakan bahwa akal (reason) merupakan dasar kepastian dan kebenaran pengetahuan, walaupun belum didukung oleh fakta empiris. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596–1650, Baruch Spinoza (1632 –1677) dan Gottried Leibniz (1646 –1716).  Sementara dalam ilmu tafsir istilah yang sering digunakan pada makna burhani adalah tafsiir bi al-ra’yi.

Jika melihat pernyataan al-Qur’an, maka akan  dijumpai sekian banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk menggunakan nalarnya  dalam menimbang ide yang masuk kedalam benaknya. Banyak ayat yang berbicara tentang hal ini dengan berbagai redaksi seperti ta’qiluuntatafakkaruuntadabbaruun dan lain-lain.  Lni membuktikan bahwa akal pun mampu meraih pengetahuan dan kebenaran selama ia digunakan dalam wilayah kerjanya.

Maksud epistemologi burhani adalah, bahwa untuk mengukur benar atau tidaknya sesuatu adalah dengan berdasarkan komponen kemampuan alamiah manusia berupa pengalaman dan akal tanpa dasar teks wahyu suci, yang memunculkan parimatik. Maka sumber pengetahuan dengan nalar burhani adalah realitas dan empiris, alam, sosial, dan humanities. Artinya ilmu diperoleh sebagai hasil penelitian, hasil percobaan, hasil eksperimen, baik di laboratorium maupun di alam nyata, baik yang bersifat nyata maupun alam. Corak berfikir yang digunakan adalah induktif, yakni generalisasi dari hasil-hasil penelitian empiris.

D. Epistemologi Irfani

Irfani berasal dari bahasa arab عرف yang secara harfiah berarti mengetahui sesuatu dengan berfikir dan mengkaji secara mendalam. Sedangkan secara terminologi, irfani adalah pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakikat oleh tuhan kepada hambanya (kasyf) setelah melalui riyadah.

Yang menjadi dasar dari sistem epistemologi ini adalah adanya prinsip dikotomi antara zahir dengan batin. Dan menurut epistemologi ini batin menduduki hirarki yang lebih tinggi. Nalar ini lebih menekankan kepada pengalaman langsung, sehingga yang banyak bekerja adalah rasa.

Dalam filsafat, irfani lebih dikenal dengan istilah intuisi. Dengan intuisi manusia bisa memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. Pengetahuan intuisi ada yang berdasar pengalaman indrawi, ada yang langsung diraih melalui nala, ada yang melalui ide cemrlang yang muncul tiba-tiba, dan ada juga yang melalui mimpi.

Sesuai dengan surah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Dijelaskan bahwa ada dua cara mendapatkan pengetahuan. Pertama melalui “pena” (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini yang sering disebut dengan istilah ilmu ladunny.

Dibandingkan dengan nalar bayani, nalar irfani lebih bebas dalam memahami yang tersurat. Imajinasi ranah ini lebih luas dan membuka berbagai kemungkinan secara bebas. Karena itu hasil dari nalar ini adalah kreatifitas dalam pencarian makna sebagai hasil berimajinasi yang kadang hasilnya bertolak belakang dengan nalar bayani. Karena itu terkadang terjadi benturan antara nalar irfani dengan nalar bayani.

Referensi:

Kibefour.blogspot.nl/2012/10/pengelompokan-keilmuan-dalam-islam 3576.html?m=1.

Nurfadhila.blogspot.com/2013/04/pengantar-studi-islam.html?=1.

Darmawan, Andi dkk, 2005. Pengantar studi islam. Yogyakarta. Pokja akademik uin sunan kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s