Pendekatan Studi Islam dalam Ilmu Kealaman


A. Pengertian Pendekatan dalam Studi Islam

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai pendekatan studI islam, banyak orang masih keliru antara pendekatan dengan metode, perbedaan keduanya memang sangat tipis. Metode merupakan cara mengerjakan sesuatu, sedangkan pendekatan adalah cara memperlakukan sesuatu. Pendekatan cenderung menganggap sebuah objek sebagai sesuatu yang aktif ketika seseorang ingin mengkaji islam dan menganggapnya sebagai sebuah entitas yang aktif dan dinamis, maka sesungguhnya ia sedang melakukan pendekatan atas islam.

B. Pengertian Ilmu Kealaman

Inti ilmu kealaman adalah positivisme. Sesuatu itu baru dianggap sebagai ilmu kalau dapat diamati, dapat diukur dan dibuktikan. Ada lima bentuk gejala agama yang perlu diperhatikan kalau kita hendak mempelajari suatu agama. Pertama, naskah-naskah sumber ajaran dan simbol-simbol agama. Kedua, para penganut atau pemimipin dan pemuka agama, yakni sikap, perilaku, dan penghayatan para penganutnya. Ketiga, ritus-ritus , lembga lembaga, dan ibadat ibadat seperti salat, haji, puasa, perkawinan, dan waris. Keempat, alat alat seperti masjid gereja loneng peci dan semacamnya. Kelima, organisasi-organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul berperan seperti NU, Muhammdiyah dll. Penelitian keagamaan dalam proses pendekatan dapat mengambil saasarn salah satu atau beberapa dari lima bentuk dari gejala ini.

C. Pengertian Pendekatan Studi Islam dalam Ilmu Kealaman

Pendekatan studi islam dalam ilmu kealaman adalah usaha untuk memahami islam dengan cara mengaitkan antara ilmu sains dengan agama, dimana kita bisa melihat fenomena-fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

1. Pendekatan Studi Islam dalam Ilmu Kimia

Banyak hal yang menarik perhatian tentang pendekatan studi islam dalam ilmu-ilmu kealaman. Ilmu kealaman ini salah satunya adalah ilmu kimia. Dimana ilmu kimia merupakan ilmu yang mempelajari materi dan perubahannya. Sekian banyak materi di dunia ini yang berhubungan dengan kimia bahkan semuanya berhubungan dengan kimia. Contohnya fotosintesis dalam biologi menggunakan materi kimia dan dengan reaksi kimia. Tapi, dari sekian banyak materi kimia ada salah satu yang harus kita tahu yaitu logam besi.

Logam besi sangat banyak kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya untuk membuat lemari, kendaraan bermotor, peralatan dapur, dll. Besi dalam kimia bersimbol “Fe” yang berarti ferrum. Dalam bahasa inggris besi disebut “iron” dan dalam bahasa arab “al-hadid”.

Al-hadid adalah nama salah satu nama surah dalam al-qur’an dan terletak pada urutan ke-57. surah ini pertama turun diantara masa-masa perang uhud. Nama surah ini diambil dari salah satu ayat yang berbunyi “wa anzalnal hadida” (Q.S Al-Hadid/57:25) .

َقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu), dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (al-Hadid 57: 25).

Banyak hal yang dapat dipelajari dari ayat ini. Terjemah ayat ini adalah “kami ciptakan besi” bukan “kami turunkan besi” padahal selaidalam bahasa arab anzala berarti “kami turunkan”. Tetapi secara logika besi itu tidak diturunkan. Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan diketahui bahwa logam berat (besi) ini tidak bisa dihasilkan oleh bumi sendiri. Dalam hal ini Neil Amstrong berpandangan bahwa memang besi diturunkan dari langit. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut “nova” atau “supernova”. Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa.

Beberapa karakteristik besi yang dapat kita hubungkan dengan surah Al-Hadid ini, yaitu:
1. Besi memiliki 8 isotop dan hanya ada 4 isotop yang stabil (Fe54, Fe56, Fe57, Fe58). Fe57 dimana Fe adalah besi dan 57 adalah nomor surahal-hadid dalamal-qur’an.
2. Energi ionisasi yang dihasilkan untuk merubah Fe2+ menjadi Fe3+ adalah 2957 kj/mol. 29 merupakan jumlah ayat dalam surah al-hadid dan 57 adalah norom surah al-hadid.
3. Isotop besi ada 8 yaitu 52Fe, 54Fe, 55Fe, 56Fe, 57Fe, 58Fe, 59Fe, 60Fe. Jumlah penjumlahan dari nomor massa seluruh isotop adalah 451. Kata hadid dalam surah ini berjumlah 451 sama dengan penjumlahan massa seluruh isotopnya.
4. Jumlah seluruh kata dalam surah al-hadid adalah 574. 57 adalah nomor surah dan 4 adalah jumlah isotop besi yang stabil.

Selain besi, Aspek kimia “madu” merupakan petunjuk yang abadi bagi parailmuwan untuk mengungkapkan keajaiban tuhan yang mengubah struktur, sifat, dan kegunaan berbagai unsur kimiawi dalam kombinasi yang berbeda-beda.

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Allah berfirman : “dan tuhanmu mewahyukan kepada lebah:”buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, dipohon-pohon kayu, dan ditempat yang dibuat manusia.”kemudian makanlah dari tiap-tiap(macam)buah-buahan dan tempuhlah jalan tuhanmu yang telah dimudahkan(bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman(madu)yang bermacam-macam warnanya. Didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi mausia. Sesugguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda(kebesaran Tuhan)bagi orang-orang yang memikirkannya.(Q.S An-Nahl[16]:68-69)

Bagi ahli kimia ini merupakan indikasi yang jelas bahwa campuran unsur-unsur tertentu bisa menghasilkan unsur yang baru.

2. Pendekatan Studi Islam dalam Ilmu Biologi

Dalam pendekatan studi islam yang bergaitan dengan ilmu Biologi, hal pertama yang dibahas adalah mengenai penciptaan manusia. Seperti yang kita ketahui bahwa ilmu biologi adalah ilmu yang membahas mengenai mahluk hidup. Disini akan dibahsa menegenai kaitan ilmu biologi dengan awal mula penciptaan manusia.
Pertama yaitu bagian pengendali otak manusia, yaitu Otak.

  1. Bagian Otak yang Mengendalikan Gerak Kita

Sesuai dengan firman allah yang terdapat dalam al-qur’an, yang artinya

  • كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ (15) نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ (16

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (Al Qur’an, 96:15-16)

Ungkapan “ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka” dalam ayat di atas sungguh menarik. Penelitian yang dilakukan di tahun-tahun belakangan mengungkapkan bahwa bagian prefrontal, yang bertugas mengatur fungsi-fungsi khusus otak, terletak pada bagian depan tulang tengkorak. Para ilmuwan hanya mampu menemukan fungsi bagian ini selama kurun waktu 60 tahun terakhir, sedangkan Al Qur’an telah menyebutkannya 1400 tahun lalu. Jika kita lihat bagian dalam tulang tengkorak, di bagian depan kepala, akan kita temukan daerah frontal cerebrum (otak besar).
beberapa ilmuan juga telah melakukan penelitian bahwa “Dorongan dan hasrat untuk merencanakan dan memulai gerakan terjadi di bagian depan lobi frontal, dan bagian prefrontal.” Ada juga yang mengatakan bahwa “Berkaitan dengan keterlibatannya dalam membangkitkan dorongan, daerah prefrontal juga diyakini sebagai pusat fungsional bagi perilaku menyerang”.

Jadi, daerah cerebrum ini juga bertugas merencanakan, memberi dorongan, dan memulai perilaku baik dan buruk, dan bertanggung jawab atas perkataan benar dan dusta.
Jelas bahwa ungkapan “ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka” benar-benar merujuk pada penjelasan di atas. Fakta yang hanya dapat diketahui para ilmuwan selama 60 tahun terakhir ini, telah dinyatakan Allah dalam Al Qur’an sejak dulu.

  1. Kelahiran Manusia

Dalam banyak ayat, orang-orang diseru untuk mengalihkan perhatian mereka ke arah proses terciptanya mereka sendiri. Mereka sering diingatkan bagaimana manusia sampai ke bumi, tahap-tahap mana yang telah kita lalui, dan apa bahan dasarnya. Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya yang luar biasa itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa informasi di dalam ayat-ayat ini sedemikian rinci.
1. Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya
(spermazoa).
2. Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.
3. Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.
4. Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di dalam rahim.

  1. Setetes Mani
    Sesuai dengan firman allah yang terdapat dalam al-qur’an,

أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَى

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (Al Qur’an, 75:36-37)
hal ini dibuktikan dengan fakta yang menunjukan bahwa Dari keseluruhan sperma berjumlah sekitar 250 juta yang dipancarkan dari tubuh pria, hanya sedikit sekali yang berhasil mencapai sel telur. Sperma yang akan membuahi sel telur hanyalah satu dari seribu sperma yang mampu bertahan hidup. Fakta bahwa manusia tidak diciptakan dengan menggunakan keseluruhan air mani, tapi hanya sebagian kecil darinya, dinyatakan dalam Al Qur’an dengan ungkapan, “setetes mani yang ditumpahkan”.

  1. Campuran Dalam Air Mani
    Dalam firman Allah yang mengatakan bahwa

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sungguh, Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, lalu Kami beri dia (anugerah) pendengaran dan penglihatan.” (Al Qur’an, 76:2)

Kemudian, bila dikaitkan dengan fakta yang sudah ada bahwa, Cairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Cairan ini justru tersusun dari campuran berbagai cairan yang berlainan. Cairan-cairan ini mempunyai fungsi-fungsi semisal mengandung gula yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi sperma, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma.

Di ayat lain, mani lagi-lagi disebut sebagai campuran dan ditekankan bahwa manusia diciptakan dari “bahan campuran” ini dipertegas dari ayat al-qur’an yg mengtakan

“Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina.” (Al Qur’an, 32:7-8)

Kata Arab “sulala”, yang diterjemahkan sebagai “sari”, berarti bagian yang mendasar atau terbaik dari sesuatu. Dengan kata lain, ini berarti “bagian dari suatu kesatuan”. Ini menunjukkan bahwa Al Qur’an merupakan firman dari Yang Berkehendak Yang mengetahui penciptaan manusia hingga serinci-rincinya. Yang Berkehendak ini ialah Pencipta manusia.

  1. Jenis Kelamin Bayi
    Dalam Al Qur’an, yang menyatakan bahwa jenis kelamin laki-laki atau perempuan diciptakan
    “dari air mani apabila dipancarkan”.

Dalam ayat al-qur’an

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَى . مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى

“Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan.” (Al Qur’an, 53:45-46)
Sehingga, Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berkembang seperti genetika dan biologi molekuler telah membenarkan secara ilmiah ketepatan informasi yang diberikan Al Qur’an ini. Kini diketahui bahwa jenis kelamin ditentukan oleh sel-sel sperma dari tubuh pria, dan bahwa wanita tidak berperan dalam proses penentuan jenis kelamin ini.

Hal ini dibuktikan dengan fakta yang menunjukkan bahwa, “Kromosom Y membawa sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X berisi sifat-sifat kewanitaan. Di dalam sel telur ibu hanya dijumpai kromosom X, yang menentukan sifat-sifat kewanitaan. Di dalam air mani ayah, terdapat sperma-sperma yang berisi kromosom X atau kromosom Y saja. Jadi, jenis kelamin bayi bergantung pada jenis kromosom kelamin pada sperma yang membuahi sel telur, apakah X atau Y”. Dengan kata lain, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, penentu jenis kelamin bayi adalah air mani, yang berasal dari ayah. Pengetahuan tentang hal ini, yang tak mungkin dapat diketahui di masa Al Qur’an diturunkan, adalah bukti akan kenyataan bahwa Al Qur’an adalah kalam Allah.

Pembentukan seorang manusia baru berawal dari penggabungan silang salah satu dari kromosom ini, yang pada pria dan wanita ada dalam keadaan berpasangan. Pada wanita, kedua bagian sel kelamin, yang membelah menjadi dua selama peristiwa ovulasi, membawa kromosom X. Sebaliknya, sel kelamin seorang pria menghasilkan dua sel sperma yang berbeda, satu berisi kromosom X, dan yang lainnya berisi kromosom Y. Jika satu sel telur berkromosom X dari wanita ini bergabung dengan sperma yang membawa kromosom Y, maka bayi yang akan lahir berjenis kelamin pria.

Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis kromosom mana dari pria yang bergabung dengan sel telur wanita.

Tak satu pun informasi ini dapat diketahui hingga ditemukannya ilmu genetika pada abad ke-20. Bahkan di banyak masyarakat, diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh pihak wanita. Inilah mengapa kaum wanita dipersalahkan ketika mereka melahirkan bayi perempuan.

Namun, tiga belas abad sebelum penemuan gen manusia, Al Qur’an telah mengungkapkan informasi yang menghapuskan keyakinan takhayul ini, dan menyatakan bahwa wanita bukanlah penentu jenis kelamin bayi, akan tetapi air mani dari pria.

  1. Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim

Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, intisari bayi yang akan lahir terbentuk. Sel tunggal yang dikenal sebagai “zigot” dalam ilmu biologi ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”.
Namun, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya.
Di sini, pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur’an terungkap. Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata “‘alaq” dalam Al Qur’an:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq (segumpal darah). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.” (Al Qur’an, 96:1-3)

Arti kata “‘alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”. Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.

Tentunya bukanlah suatu kebetulan bahwa sebuah kata yang demikian tepat digunakan untuk zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur’an merupakan wahyu dari Allah, Tuhan Semesta Alam.

  1. Pembungkusan Tulang oleh Otot

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (Al Qur’an, 23:14)
Ayat di atas dikuatkan dengan fakta yang baru-baru dibuktikan sekarang-sekarang ini bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut.

Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang yang baru terbentuk .

Peristiwa ini digambarkan dalam sebuah terbitan ilmiah dengan kalimat berikut:

Dalam minggu ketujuh, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuknya yang kita kenal.Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan, otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang. (Moore, Developing Human, 6. edition,1998.)

Singkatnya, tahap-tahap pembentukan manusia sebagaimana digambarkan dalam Al Qur’an, benar-benar sesuai dengan penemuan embriologi modern.

  1. Tiga Tahapan Bayi Dalam Rahim

Dalam Al Qur’an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya.

“… Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Al Qur’an, 39:6)
Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut:

“Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran.” (Williams P., Basic Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.)

Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut:

– Tahap Pre-embrionik

Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan.

– Tahap Embrionik

Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai “embrio”. Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan- lapisan sel tersebut.

– Tahap fetus

Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai “fetus”. Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran.

Informasi mengenai perkembangan yang terjadi dalam rahim ibu, baru didapatkan setelah serangkaian pengamatan dengan menggunakan peralatan modern.
Fakta bahwa informasi yang sedemikian rinci dan akurat diberikan dalam Al Qur’an pada saat orang memiliki sedikit sekali informasi di bidang kedokteran, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur’an bukanlah ucapan manusia tetapi Firman Allah.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan studi islam tidak hanya mengacu pada penedekatan sosial, bidaya dll. Tetapi pendekatan study islam juga sangat erat sekali kaitannya dengan ilmu-ilmu kealaman, karna tanpa kita sadari banyak sekali fakta-fakta di dunia ini yang harus dicari kebenarannya dengan mengaitkan kebenaran tersebut dengan fakta yang terdapat dal al-qur’an. Sebagai bukti bahwa segala sesuatu yang ada dibumi ini terbentuk atas kehendak tuhan yang sudah sangat jelas sekali terdapat dalam firman-firmannya.

3. Pendekatan Studi Islam dalam Ilmu Fisika

Ilmu Fisika adalah ilmu yang mempelajari fenomena alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu yang menguak rahasia alam dan mencari kebenaran tentang hukum-hukum yang berlaku di alam.

Pertama, unsur pertama dalam kegiatan fisika adalah observasi atau pengamatan terhadap bagian alam yang ingin kita ketahui sifat dan kelakuan pada kondisi tertentu. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan sebagaimana pada ayat 101 surah Yunus:

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad): Periksalah dengan intizhor apa-apa yang ada di langit dan di bumi.

Perintah ini menunjukkan agar manusia mengetahui sifat-sifat dan kelakuan alam di sekitarnya, yang akan menjadi tempat tinggal dan sumber bahan serta makanan selama hidupnya.

Kedua, pengukuran. Kuantifikasi dilakukan semaksimal mungkin, sebab segala sesuatu akan menjadi kabur dalam fisika apabila hanya dinyatakan secara kualitatif. Fisika adalah ilmu kuantitatif sebagaimana sains pada umumnya. Di dalam Al-Qur’an sendiri dinyatakan dalam ayat 49 surah al-Qomar:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala segala sesuatu dengan ukuran.

Ketiga, analisis data yang terkumpul dari berbagai pengukuran atas besaran-besaran fisika yang terlibat, yang dilakukan melalui proses pemikiran kritis, dan yang keempat adalah evaluasi hasil-hasilnya dengan penalaran yang sehat untuk mencapai kesimpulan yang rasional. Pentingnya peranan pikiran yang kritis dan penalaran yang rasional ini bagi pengungkapan kelakuan alam semesta ditekankan dalam ayat 11 dan 12 surah an-Nahl:

Dia menumbuhkan bagimu, dengan air hujan itu, tanaman-tanaman zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat ayatullah bagi orang yang mampu berpikir. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu; dan bintang-bintang itu ditundukkan (bagimu) dengan perintah-Nya; sebenarnya pada yang demikian itu terdapat ayatullah bagi kaum yang menalar.

Contoh berikunya adalah lautan yang tidak bercampur satu sama lain. Firman Allah SWT,”Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing.” (Al Qur’an, 55:19-20).

Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka.

Newton tidak penemu dan menemukan teori gravitasi. Teori dan konsep gravitasi telah dijelaskan sebelumnya oleh ilmuwan muslim Al-Biruni dan juga oleh ilmuwan muslim Al-Kazimi. Jadi teori dan hukum gravitasi oleh Newton yang dikenal dunia ilmu pengetahuan sekarang, bersumber pada ide dan gagasan ilmuwan muslim sebelumnya yaitu Al-Kazimi dan Al-Biruni. Ilmuwan muslim tersebut belajar gravitasi, terinspirasi oleh ayat-ayat Al-Qur’an (wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW). Al-Kazini dan Al-Biruni disamping belajar ilmu sains juga belajar Al-Qur’an.  Sungguh  Al-Qur’an itu merupakan petunjuk bagi manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan serta pedoman hidup di dunia maupun di akhirat.

Ketika manusia belum mengetahui tentang ilmu fisika, tegangan permukaan, maupun ilmu kelautan, Al-Quran telah menjelaskannya dari dulu, ketika mulai diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, pada tahun 610 Masehi. Demikianlah beberapa contoh tentang keterkaitan antar Al-Quran dan ilmu fisika, karena Al-Quran sumber ilmu pengetahuan.

Referensi:

Abdullah, M Amin dkk. 2007. Pendekatan Studi Islam. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Bagir, Zainal Abidin. 2005. Integrasi Ilmu dan Agama. Bandung: PT Mizan Pustaka.

Baiquni, Achamd. 1995. Al Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa.

Fanani, Muhyar. 2008. Metode Studi Islam. Yogyakrta: Pustaka Belajar.

Jammer, Max. 2004. Agama Einstein, Teologi, dan Fisika. Yogyakarta: Yayasan Relief Indonesia.

Maksudin. 2013. Paradigma Agama dan Sains Nondikotomik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mudzahar, M Atho. 1998. Islamic Study. Jogjakarta:Pustaka Belajar.

Muljohardjono, Hanafi. 2004. Sains, Humaniora, dan Agama. Surabaya: Airlangga University Press.

Roston, Holmes. 2006. Ilmu dan Agama Sebuah Survey Krisis. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Yahya, Harun. 2003. Al-Qur’an da Biologi. Diakses pada tanggal 16 November 2014 di http://id.harunyahya.com/id/Buku/9312/keajaiban-al-qur%E2%80%99an/chapter/10318.

Akram, Eka Muhammad. 2010. Fakta Kimia dalam Al-Qur’an. Diakses pada tanggal 16 November 2014 di http://ekakimia.blog.com/2010/02/10/fakta-kimia-dalam-al-qur%E2%80%99an/.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s