Pendekatan Studi Islam dalam Sosiologi dan Antropologi


A. Pengertian Sosiologi Agama

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi sosial, menelusuri asal-usul pertumbuhannya, menganalisis pengaruh kegiatan kelompok terhadap anggotanya, perilaku sosial manusia dengan meniliti kelompok yang dibangunnya, meliputi: masyarakat, keluarga, suku bangsa, komunitas dan pemerintahan, organisasi sosial, politik, agama, bisnis dan lain-lain.

Agama dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta yaitu “A” tidak dan “gama” berarti kacau. Jadi, agama berarti tidak kacau. Agama berarti sesuatu yang mengatur manusia agar tidak kacau dalam kehidupannya. Secara umum, agama dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antar manusia dan hubungan manusia dan lingkungannya. Di sini agama merupakan sebuah teks suci adapun hubungan agama dengan manusia terutama kegiatan-kegiatan manusia yang menjadi penganut agama tidak tercakup dalam definisi tersebut.

Sosiologi agama adalah studi hubungan yang signifikan dan kadang-kadang subtil antara agama dengan proses sosial. Disini tercakup usaha mengembangkan dan mencari konsep yang lebih tepat sesuai dengan maksud untuk lebih memahami fenomena agama yang bersegi banyak itu.

B. Pendekatan Studi Islam dalam Sosiologi Agama

Istilah pendekatan atau approach menurut Vernon van Dyke bahwa suatu pendekatan pada prinsipnya adalah ukuran-ukuran untuk memilih masalah-masalah dan data-data yang berkaitan antara satu sama lain. Definisi lain pendekatan atau rancangan ilmiah merupakan bentuk sistematis yang khusus dari seluruh pemikiran dan telaah reflektif. Suatu pendekatan dalam menalaah sesuatu, dapat dilakukan berdasarkan sudut pandang ataupun tinjauan dari berbagai karakteristik maupun cabang ilmu seperti antropologi, psikologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, termasuk sosiologi. Jika pada cabang ilmu sosiologi maka pola pendekatan yang digunakan ukuran-ukuran sosiologi untuk menentukan masalah, pertanyaan penelitian maupun data yang akan ditelaah.

Ada dua pendekatan penting dalam penilitian agama

  1. Pendekatan teologis

Yaitu pendekatan kewahyuan atau keyakinan peneliti sendiri. Pendekatan ini dilakukan dalam penelitian suatu agama unutk kepentingan agama yang diyakini oleh peniliti untuk menanmbah pembenaran keyakinan terhadap agama yang dipeluknya dan suatu pendapat atau mazhab sehingga penuh dengan subyektifitas dari peneliti, sarat dengan muatan kepentingan, keyakinan dan prasangka peneliti, yaitu dilakukan oleh ulama dan, pendeta, para rahib, seperti penilitian ahli ilmu kalam, ahli tafsir, usul fiqih, ulum al-hadis.

  1. Pendekatan Keilmuan

Yaitu pendekatan yang menggunakan metodologi ilmiah dengan prosedur ilmiah, sistematis atau runtut dalam cara kerjanya, empiris dari dunia nyata bukan dari pemikiran atau angan-angan, objektif atau sesuai dengan fakta, tidak bias oleh keyakinan dan prasangka peneliti.

Dari sisi keilmuan ada dua bidang dalam penelitian agama, yaitu ilmu budaya dan ilmu sosial. Pendekatan sosiologis termasuk dalam ilmu sosial. Pengertian dari pendekatan sosiologis sendiri adalah pendekatan tentang interelasi antara agama dengan masyarakat serta bentuk-bentuk interaksi yang terjadi di antara mereka. Dorongan, gagasan, lembaga agama, kekuatan sosial organisasi dan startifikasi sosial mempengaruhi masyarakat.

C. Teori-Teori Pendekatan

Dalam sosiologi terdapat berbagai fenomena sosial keagamaan. Di antara pendekatan itu yang sering dipergunakan ialah:

1. Fungsionalisme

Setiap anggota masyarakat, menurut Parson, harus dididik sedimikian rupa agar memahami nilai-nilai yang menjadi patokan bersama. Parson menghendaki agar individu memelihara nilai-nilai bersama. Parson sesungguhnya tidak terlalu menghendaki adanya perubahan sosial. Bahkan sebaliknya agar nilai-nilai masyarakat tidak mengalami perubahan.

Beberapa gejala sosial keagamaan dapat dijelaskan dengan pendekatan fungsional. Perilaku ekonomi yang terdapat dalam sebuah komunitas dapat dijelaskan dengan faktor agama. Nilai-nilai agama yang terdapat dalam sebuah komunitas dapat dijelaskan dengan faktor agama. Nilai-nilai agama yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah komunitas merupakan pranata sosial yang akan berpengaruh terhadap realitas dan perilaku ekonomi.

Fungsionalisme yang dikemukakan oleh Parson cenderung hanya menganalisis berbagai perubahan sosial dalam lingkup mikro. Sementara itu fungsionalisme yang dikembangkan Robert K. Merton menganalisis berbagai perubahan sosial, integrasi, dan disintegrasi sosial secara lebih makro. Agama dalam perspektif Merton merupakan faktor integratif.

2. Pertukaran

Menurut perspektif pertukaran, manusia selalu melakukan transaksi sosial yang saling menguntungkan, baik keuntungan materi maupun non-materi. Turner mengemukakan pokok-pokok pandangan teori pertukaran ialah :

  1. Manusia berusaha memperoleh keuntungan dari transaksi sosial,
  2. Manusia memperhitungkan untung rugi dalam transaksi sosial,
  3. Manusia menyadari adanya sejumlah alternative yang mendorong mereka memperhitungkan untung rugi,
  4. Manusia bersaing untuk memperoleh keuntungan,
  5. Pertukaran yang berorientasi keuntungan berlangsung dalam setiap konteks sosial,
  6. Individu mempertukarkan komoditas non material seperti perasaan dan jasa.

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam sebuah komunitas muslim dipandang dari perspektif pertukaran. Karena itu, muncul berbagai pertanyaan dalam melakukan tinjauan secara kritis terhadap realitas dan perubahan sosial. Bagaimana komunitas muslim memandang komunitas lain? Apakah mereka merasa adanya penghargaan dari komunitas lain atau dari anggota komunitas?

Pertanyaan yang dikembangkan dari perspektif teori pertukaran tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan perubahan masyarakat. Misalnya, bila komunitas muslim mengalami perubahan, maka realitas ini dapat dianalisis dengan menggunakan perspeftif pertukaran.

3. Interaksionisme

Interaksionisme yang mengasumsikan dalam masyarakat pasti ada hubungan anatara masyarakat dengan individu,antara individu dengan individu lain. Teori Interaksionis sering diidentifikasi sebagai deskripsi yang interpretatif yaitu suatu pendekatan yang menawarkan analisis yang menarik perhatian besar pada pembekuan sebab senyatanya ada. Ada sejumlah kritik muncul pada teori ini yakni :

  1. Menggunakan analisis yang kurang ilmiah,karena teori ini menghindari pengujian hipotesis, menjauhi hubungan sebab akibat.
  2. Teori ini terlalu memfokuskan pada proses sosial yang terjadi ditingkat makro.
  3. Teori ini terlalu mengabaikan kekuasaan.

Kemudian prinsip yang digunakan interaksionisme adalah

  1. Bagaimana individu menyikapi sesuatu yang ada dilingkungannya
  2. Memberikan makna pada fenomena tersebut berdasarkan interaksi sosial yang dijalin dengan individu lain.
  3. Makna tersebut dipahami dan dimodifikasi oleh individu melalui proses interprestasi atau penafsiran yang berkaitan dengan hal-hal lain yang dijumpainya.

4. Konflik

Teori yang kepercayaan bahwa setiap masyarakat mempunyai kepentingan (interst) dan kekuasaan (power) yang merupakan pusat dari segala hubungan sosial. Menurut pemegang aliran ini nilai dan gagasan-gagasan selalu dipergunakan sebagai senjata untuk melegitimasi kekuasaan. Teori-teori yang berhubungan dengan pendekatan sosiologi adalah teori-teori perubahan sosial yakni teori evolusi, teori fungsionalis structural,teori modernisasi,teori sumber daya manusia,teori ketergantungan,dan teori pembebasan.

Teori konflik mengasumsikan bahwa masyarakat terdiri dari beberapa kelompok yang memiliki kepentingan satu sama lain. Mereka selalu bersaing untuk mewujudkan hasrat dan kepentingan mereka. Perjuangan untuk mewujudkan hasrat dan kepentingan mereka sering kali bermuara pasa terjadinya konflik antara satu komunitas masyarakat dengan komunitas yang lain.

Bila dalam suatu komunitas memiliki kecenderungan disintegrasi (perpecahan), maka peniliti dapat menggunakan pendekatan konflik untuk melakukan analisis terhadap kondisi tersebut. Hal ini sering digunakan oleh para politisi untuk mewujudkan solidaritas internal dan integrasi. Pemimpin tersebut menciptakan suatu keadaan seakan-akan terdapat musuh bersama, sehingga masyarakat cenderung integratif. Namun demikian, jika apa yang dianggap musuh bersama tidak ada, maka solidaritas masyarakat cenderung melemah bahkan tidak jarang mengalami disintegrasi. Karena itu, pemimpin tersebut akan terus menerus menciptakan konflik. Demikian salah satu pendekatan konflik yang dapat digunakan untuk menganalisis realita masyarakat, termasuk komunitas muslim.

D. Pengertian Antropologi

Fenomena keagamaan adalah gejala universal dan unik serta penuh misteri, sehingga berbagai ilmu sosial tertarik untuk mempelajarinya. Ahli sejarah, filsafat, linguistic, psikologi dan ilmu sosial dan humaniora lainnya mempelajari kehidupan beragama. Berkembanglah sosiologi agama, antropologi agam, psikologi agama, sejarah agama, disamping ilmu agama (teologi) yang memang dikenal khusus mempelajari ajaran agama.

Antropologi sendiri secara etimologis berasal dari Bahasa Yunani, yaitu kata anthropos yang berarti “manusia” atau “orang”, dan logos yang berarti “wacana” (dalam pengertian “bernalar”, “berakal”). Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.

Sedangkan definisi antropologi adalah ilmu yang mengkaji manusia dan budayanya. Tujuannya adalah memperoleh suatu pemahaman totalitas manusia sebagai makhluk, baik di masa lampau maupun sekarang, baik sebagai organisme biologis maupun sebagai makhluk berbudaya. Dari hasil kajian ini, maka sifat-sifat fisik manusia serta sifat khas budaya yang dimilikinya bisa diketahui.

Menurut Akbar S. Ahmad, antropologi adalah ilmu yang didasarkan atas observasi yang luas tentang kebudayaan, menggunakan data yang terkumpul, dengan menetralkan nilai, analisis yang tenang (tidak memihak).

Antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek dari manusia, yang terdiri dari aspek fisik dan nonfisik berupa warna kulit, bentuk rambut, bentuk mata, kebudayaan, dan berbagai pengetahuan tentang corak kehidupan lainnya yang bermanfaat.

E. Pendekatan Studi Islam dalam Antropologi

Sadar bahwa manusia adalah makhluk budaya, punya kehendak, keinginan, imajinasi, perasaan, gagasan, kajian yang dikembangkan antropologi tidak seperti pendekatan ilmu alam. Pendekatan yang dipakai lebih humanistic, berusaha memahami gejala dari pelaku gejala tersebut yang nota bene punya gagasan, inisiatif, keyakinan, biasa terpengaruh oleh lingkungan pula memengaruhi lingkungan. Penjelasan kehidupan manusia dengan segala kompleksitas ini dinamakan dengan penjelasan deskriptif yang didapatkan dari penilitian kualitatif.

Pendekatan antropologi yaitu pendekatan kebudayaan artinya agama dipandang sebagai bagian dari kebudayaan, baik wujud idea maupun gagasan dianggap sebagai sistem norma dan nilai yang dimiliki oleh anggota masyarakat, yang mengikat seluruh anggota masyarakat. Sistem budaya agama itu memberikan pola kepada seluruh tingkah laku anggota masyarakat, dan melahirkan hasil karya keagamaan yang berupa karya fisik, dari bangunan tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura dan kelenteng, sampai alat upacara yang sangat sederhana seperti hioh, tasbih, atau kancing baju.

Sebagian kajian antropologis, beragamanya manusia ingin dipelajari secara mendalam, sampai dasar-dasar fundamental dari kehidupan beragama dan asal usul manusia beragama.

Salah satu contoh penilitian yang menggunakan pendekatan antropologi adalah runtuhnya Daulat Bani Umayah dan bangkitnya Daulat Bani Abasiyah. Untuk membahas topik ini, M. Atho Mudzhar menyarankan sedikitnya ada empat hal yang harus diperhatikan dan diperjelas dalam rancangan penelitian, yaitu: rumusan masalah, arti penting penelitian, metode penelitian dan literatur yang digunakan. Keempat hal tersebut akan dirincikan secara singkat sebagai berikut:

  1. Rumusan masalahnya adalah faktor-faktor apa saja yang menyebabkan jatuhnya Bani Umayah dan bangkitnya Bani Abasiyah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus dirumuskan faktor penyebab runtuh atau bangkitnya dinasti, dan aspek apa saja yang akan dilihat.
  2. Menjelaskan signifikasi penelitian, seperti menjelaskan maksud penelitian (sesuatu yang belum pernah diteliti atau dibahas sebelumnya) dan kontribusi apa yang diperoleh dari hasil penelitian setelah dilakukan nantinya.
  3. Metode yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian dengan merinci hal-hal seperti: bentuk dan sumber informasi serta cara mendapatkannya, memahami dan menganalisa informasi serta cara pemaparannya.
  4. Melakukan telaah pustaka dan membuat rangkuman dari teori yang telah dipaparkan. Setelah itu, seorang peneliti harus mengetahui apa saja yang belum dibicarakan, dan dari sinilah akan diperoleh kontribusi dari hasil penemuan penelitian.

F. Objek Kajian dalam Antropologi

Objek yang dikaji oleh berbagai cabang dan ranting ilmu, dibedakan oleh Poedjawijatna kepada objek material dan obejk forma (1983). Objek material ialah apa yang dipelajari oleh suatu ilmu. Ilmu sosial misalnnya, mempelajari masyarakat. Sosiologi dan antropologi sama-sama mengkaji masyarakat tetapi sudut tinjauan atau formanya berbeda. Sosiologi, misalnya, dari sudut struktur sosialnya, sedangkan antropologi dari sudut budaya masyarakat tersebut.

Jika budaya dikaitkan dengan agama, maka agama yang dipelajari adalah agama sebagai fenomena budaya, bukan ajaran agama yang datang dari Allah. Antropologi tidak membahas salah benarnya suatu agama dan segenap perangkatnya, seperti kepercayaan , ritual dan kepercayaan kepada yang sacral, wilayah antropologi hanya terbatas pada kajian terhadap fenomena yang muncul. Menurut Atho Mudzhar, fenomena agama yang dapat dikaji ada lima kategori meliputi:

  1. Scripture atau naskah atau sumber ajaran dan simbol agama.
  2. Para penganut atau pemimpin atau pemuka agama. Yakni sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya.
  3. Ritus, lembaga dan ibadat. Misalnya shalat, haji, puasa, perkawinan dan waris.
  4. Alat-alat (dan sarana). Misalnya masjid, gereja, lonceng, peci dan semacamnya.
  5. Organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan. Misalnya seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Gereja Protestan, Syi’ah dan lain-lain.

Menurut Harsojo, kajian antropologi terhadap agama dari dahulu hingga sekarang meliputi empat masalah pokok, yaitu:

  1. Dasar-dasar fundamental dari agama dan tempatnya dalam kehidupan manusia
  2. Bagaimana manusia yang hidup bermasyarakat memenuhi kebutuhan religious mereka,
  3. Dari mana asal-usul agama,
  4. Bagaimana manifestasi perasaan dan kebutuhan religious manusia.

Referensi:

Ali, H.M. Sayuthi Drs. M.Ag. 2002. Metodologi Penilitian Agama. Jakarta : RajaGrafindo Persada.

Jurdi, Syarifuddin. 2008. Sosiologi Islam : Elaborasi Pemikiran Sosial Ibn Khaldun. Yogykarta: UIN Sunan Kalijaga

Kahmad, H. Dadang Dr, M.Si. 2009. Sosiologi Agama. Bandung : Remaja Rosdakarya Offset

Mubaraq, H. Zulfi Dr. 2010. Sosiologi AGAMA. Malang : UIN-Maliki

http://norkholiq.blogspot.com/2013/09/studi-islam-dengan-pendekatan-sosiologi.html (akses : 4 November 2014 jam 16:15)

http://id.wikipedia.org/wiki/sosiologi (akses: 4 November 2014 jam 16:14)

http://4dn4nm4hd1.wordpress.com/2012/08/27/pendekatan-antropologi-dan-sosiologi-dalam-studi-agama/ (akses: 4 November 2014 jam 16:15)

http://emansipatoris.blogspot.com/p/blog-page_4647.html (akses: 4 November 2014 jam 16:00)

http://nurrunjamaludin.wordpress.com/2013/10/14/pendekatan-sosiologi-dalam-studi-islam/ (akses: 4 November 2014 jam 16:00)

PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM STUDI ISLAM (.pdf diunduh 4 November 2014 jam 16:00)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s