Gender dalam Perspektif Islam


A. Pengertian Gender

Kata jender berasal dari bahasa Inggris gender yang berarti jenis kelamin. Menurut Nasrudin Umar, pengertian ini kurang tepat, sebab dengan pengertian tersebut jender disamakan dengan seks yang berarti jenis kelamin pula. Persoalan ini muncul barangkali adalah karena kata jender termasuk kosa kata baru, sehingga pengertiannya belum ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Istilah jender dibedakan dari istilah seks. Ann Oaqley, ahli sosiologi Inggris, merupakan orang yang mula-mula memberikan pembedaan dua istilah itu (Saptari & Halzner, 1997 : 89). Istilah jender merujuk kepada perbedaan karakter laki-laki dan perempuan berdasarkan konstruksi sosial budaya, yang berkaitan dengan sifat, status, posisi, dan perannya dalam masyarakat. Istilah seks merujuk kepada perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan secara biologis, terutama terkait dengan pro kreasi dan reproduksi.

Dalam Webster’s New World Dictionary, jender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dari segi nilai dan tingkah laku. Dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa jender adalah konsep yang bersifat budaya (cultural) yang berupaya membuat perbedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Meskipun kata jender belum masuk dalam perbendaharaan Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah tersebut sudah lazim dipergunakan, khususnya, di kantor Menteri Urusan Peranan Wanita dengan ejaan ‘jender’. Jender diartikan sebagai penafsiran yang bersifat mental (interpretasi mental) dan budaya (cultural) terhadap perbedaan kelamin, laki-laki dan perempuan. Jender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang tepat bagi laki-laki dan perempuan.

Mansour Fakih menguraikan pengertian jender secara lebih mendetail beserta contoh-contohnya. Menurutnya, jender adalah sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya, perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional, dan keibuan. Sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Ciri-ciri dan sifat-sifat tersebut merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya, ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, keibuan, sementara ada juga perempuan yang rasional, kuat, dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat lain. Jadi yang disebut jender adalah semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya maupun berbeda dari satu kelas ke kelas lain.

Untuk membedakan antara jender dan seks, perlu pula diberikan pengertian seks. Kata seks dalam bahasa Indonesia diartikan ‘jenis kelamin’. Kalau ada kata seks, maka diisi dengan laki-laki dan perempuan. Namun pembedaan kedua jenis kelamin manusia ini, ditentukan secara biologis. Maksudnya adalah perbedaan yang didasarkan pada hal yang bersifat permanen (kurdati), tidak dapat ditukarkan. Misalnya, laki-laki memiliki penis, sementara perempuan memiliki vagina. Perempuan mempunyai payudara yang dapat memproduksi makanan untuk anak, sementara laki-laki tidak. Pendeknya, perbedaan disini lebih bersifat paten, kudrat, dan tidak dapat dipertukarkan, tidak dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu, tidak dapat berubah-ubah dari satu tempat ke tempat lain, tidak dapat dipertukarkan antara satu kelas ke kelas lain. Meskipun dapat dipertukarkan dengan teknologi, tetapi tetap ada perbedaan hormon-hormon yang ada di dalamnya.

Berdasarkan definisi-defini diatas, dapat disimpulkan bahwa jender adalah konsep perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai hasil pembentukan sosial dan budaya, bukan bersifat biologis atau kudrati. Dengan demikian, perbedaannya adalah bersifat non-biologis.

B. Sejarah Munculnya Kesetaraan Gender

Perbedaan gender tidak menjadi masalah ketika tidak menjadi persoalan sosial budaya, yaitu adanya ketidaksetaraan gender yang kemudian menghasilkan berbagai bentuk ketidakadilan dan penindasan terhadap warga masyarakat dengan jenis kelamin tertentu (biasanya perempuan) (Heddy, makalah, 2001 : 6). Pada kenyataannya, perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, bukan saja kepada perempuan tetapi juga kepada laki-laki. Laki-laki yang mendapat peran sebagai pencari nafkah dan pelindung dituntut oleh budaya untuk menjadi perkasa, mampu kerja keras, dan bersifat rasional sehingga kehilangan sisi-sisi kelembutan dan sikap damai yang merupakan kebutuhan lain dalam kehidupan manusia. Sebaliknya, perempuan yang mendapat peran sebagai penanggung jawab pekerjaan domestik dianggap bersifat lemah dan pasif, maka tidak kapabel untuk berkiprah di dunia publik.

Dalam sejarah Islam sendiri diketahui bahwa tradisi arab pra-islam sama sekali tidak mensetarakan posisi dan peran perempuan dihadapan laik-laki. Keberadaan perempuan pra-islam secara umum, diamati Haifaa A. Jawad, sangat memprihatinkan dan suram. Sejarah peradaban manusia memberikan kesaksian bahwa perempuan dimasa ini begitu terhina, menjadi korban kekerasan, dan ditempatkan sebagai komunitas kelas dua, daripada sebagai individu yang terhormat. Perempuan seakan menjadi budak sahaya bagi suaminya, yang bisa dipertahankan atau diceraikan sekehendak dan sesuka mereka. Perempuan dipandang sebagai penjelmaan dari dosa, memilih hak dan posisi di mata masyarakat.

Tragisnya, masyarakat pra-islam, sebagaimana masyarakat umum lainnya, merasa bingung dengan keberadaan perempuan dan bahkan mempertanyakan apakah Tuhan memberikan jiwa pada mereka. Sebab itu masyarakat mendermakan semua kesempatan yang bisa mengembangkan kepribadian dan individualitas mereka, dan bahkan untuk memaksimalkan kemampuan mereka bagi keuntungan masyrakat sekalipun. Mereka tidak diberikan hak kewarisan dan kepemilikan. Sebaliknya mereka justru dijadikan obyek pewaris. Mereka tidak dipertimbangkan sebagai orang, namun sebagai sesuatu barang, sehingga bisa dibagi-bagikan semacam properti. Meereka sungguh menjadi objek caci-maki dan hinaan. Praktek-praktek tidak manusiawi seakan telah menjadi kezaliman dalam kebanyakan masyarakat-masyarakat kuno saat itu.

Kemudian, sebuah lembaga di Athena pernah mengeluarkan keputusan bahwa kaum wanita adalah binatang najis yang tidak memiliki ruh yang abadi, namun mereka tetap diwajibkan beribadah dan berbakti, mulut mereka dibungkam laksana unta, anjing, dan sapi: tidak boleh berbicara dan tertawa. Ini, karena mereka dianggap sebagai tali temali setan. Sementara itu, hukum mereka yang terkenal antara lain memperbolehkan seorang ayah mengawini putrinya sendiri. Bangsa Arab pun menganggap bahwa seorang ayah punya hak untuk membunuh putri mereka hidup-hidup, dan sebagian diantara mereka ada yang menganggap bahwa seorang laki-laki yang membunuh seorang wanita, tidak dikenai qishash maupun diyat.

Satu-satunya bangsa, sesudah kelahiran Muhammad dan sebelum beliau diutus sebagai rasul, yang dianggap paling menghargai kaum wanita adalah bangsa Perancis, dimana mereka menetapkan bahwa kaum wanita adalah juga manusia tetapi ditakdirkan untuk melayani kaum pria.

Nabi Muhammad lahir dengan membawa perbaikan-perbaikan bagi umat manusia pada umumnya, dan kaum wanita pada khususnya. Di dalam Al quran, sesungguhnya terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang kedudukan wanita dalam Islam. Bahwa kedudukannya sama dengan laki-laki dan yang membedakannya hanyalah tingkat ketakwaannya.

Pada dekade terakhir ini, semakin merebak perdebatan tentang ajaran agama yang berkaitan dengan perempuan. Terutama Islam, banyak orang yang mulai mempertanyakan ajaran-ajaran agama yang terkesan bias gender. Jika ditilik, munculnya perbedaan pandangan mengenai perempuan dalam islam, disamping disebabkan oleh penafsiran terhadap ayat, juga disebabkan oleh sejumlah ayat yang secara letterlijk memposisikan perempuan pada kedudukan yang tidak sama dengan laki-laki, seperti ayat tentang waris yang menyatakan bahwa “bagian anak laki-laki itu ada dua kali bagian anak perempuan”. Ayat tersebut dipahami sebagai indikasi bahwa laki-laki memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Oleh karena itu, laki-laki memperoleh bagian dua kali lipat lebih banyak dari perempuan. Ayat ini sering juga dijadikan sebagai konsep mengenai pembagian fungsi dan kedudukan laki-laki dan perempuan, serta implikasi yang ditimbulkan oleh adanya pembagian itu. Ada semacam pembagian tugas sebagai akibat laki-laki memiliki kekuatan ragawi untuk menghadapi berbagai macam hambatan dalam mencari nafkah. Karena posisinya sebagai pihak yang mencari nafkah, laki-laki akan menerima imbalan dua kali lipat lebih banyak dari perempuan. Secara sosiologis pembagian tugas semacam ini merupakan kenyataan historis yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia.

Pemahaman semcam itu juga didukung oleh ayat lain yang menyatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan (Q.S. 4: 34). Ayat ini sekaligus memberikan penegasan mengenai posisi laki-laki sebagai pihak yang “berada di depan” untuk melindungi perempuan. Bahkan, ayat itu pun kemudian merupakan penegasan bahwa pemimpin itu laki-laki, seperti tercermin dalam imam sholat dan praktik penyelenggaraan negara yang dalam kenyataannya dilakukan oleh laki-laki. Sebagai akibatnya, perempuan tidak memperoleh tempat yang sebanding dengan yang diperoleh oleh laki-laki sebagai pemimpin strategis dalam perkembangan penyelenggaraan kenegaraan pada negara-negara Islam.

C. Perempuan dalam Kedudukan Islam

“Wanita adalah tiang negara. Jika ingin menegakkan negara, lindungilah wanita; dan jika ingin menghacurkan negara, hinakanlah wanita.”

Tidak dapat dimungkiri, kedudukan wanita begitu penting pada setiap sendi kehidupan. Kelembutannya tidak menjadikan kedudukan wanita diabaikan, bahkan melalui potensi itu wanita bisa menduduki grada terdepan dalam perjuangan.

Dalam Islam, wanita begitu mulia kedudukannya. Bahkan, salah satu nama surah dalam Al-Quran adalah Al-Nisa’ yang berarti ‘wanita’. Bukan hanya itu, Rasulullah saw. ketika ditanya siapa yang paling berhak untuk dihormati, di antara ayah dan ibu, menjawab, “Ibumu”, hingga tiga kali, kemudian, “Ayahmu”.

Ketika Allah mengangkat Muhammad sebagai Rasul, maka sekaligus Allah juga mengangkat tangan wanita dan memberikan kebebasan padanya dengan kebebasan yang benar serta rasional. Allah memberikan haknya secara komplit, tidak dikurangi sedikit pun, menjadikannya sebagai pendamping bagi kaum laki-laki dalam melaksanakan kewajiban dan penerapan hukum. Wanita mempunyai kewajiban yang sama dengan laki-laki, kecuali dalam beberapa hal yang harus disesuaikan dengan nalurinya. Maka, dalam hal ini ia memperoleh prioritas untuk dimuliakan dan diperlakukan dengan lemah lembut.

Beberapa dalil mengenai keistimewaan wanita dalam Islam:

1. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib, dari Rasulullah saw., beliau bersabda: “Tiada yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia, dan tiada orang yang menghinakan wanita kecuali orang yang sama.”

2. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.” (HR Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam “ash-shahihah”: 285)

3. “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)

4. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al Rûm [30]: 21)

5. “Janganlah kamu membenci anak-anak putri. Sesungguhnya mereka ada perisai yang mahal harganya.” (H.R. Imam Ahmad & At-Thabrani)

6. “Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan-perempuan dengan jalan paksaan, dan janganlah kamu menyakiti mereka (dengan menahan dan menyusahkan mereka) kerana kamu hendak mengambil balik sebahagian dari apa yang kamu telah berikan kepadanya, kecuali (apabila) mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah kamu dengan mereka (isteri-isteri kamu itu) dengan cara yang baik. Kemudian jika kamu (merasai) benci kepada mereka (disebabkan tingkah lakunya, janganlah kamu terburu-buru menceraikannya), kerana boleh jadi kamu bencikan sesuatu, sedang Allah hendak menjadikan pada apa yang kamu benci itu kebaikan yang banyak (untuk kamu).” (Surah An-Nisa’:19)

Dan masih banyak lagi teks Al Quran dan Hadis yang menerangkan tentang keistimewaan wanita dalam Islam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa wanita memiliki kedudukan yang sangat spesial dalam Islam.

Referensi:

Abdullah, M. Amin. 2004. Kesetaraan Gender di Perguruan Tinggi Islam. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Al-Hamid, Muhammad. 1992. Islam Rahmat bagi Wanita. Surabaya: Risalah Gusti.

Djamil, Abdul. 2002. Bias Jender Dalam Pemahaman Islam. Yogyakarta: Gama Media.

Mufidah. 2010. Gender di Pesantren Salaf: Why Not?. Malang: UIN-Maliki Press.

Nasution, Khoiruddin. 2012. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: Academia.

Rachman, M. Fauzi. 2013. Wanita yang Dirindukan Surga: Ibadah-Ibadah Utama untuk Wanita. Bandung: Mizania.

Ridha, Muhammad Rasyid. 1986. Panggilan Islam terhadap Wanita. Jakarta: Pustaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s