Pelukan Terakhir Sang Bunda


​Secangkir kopi panas menemani dinginnya kota ini, Kota dengan sebutan kota pelajar, kota gudeg, kota batik dan masih banyak sebutan untuk kota ini karena keistimewaannya yang mempesona hati. Bulan dan bintang tak kalah beradu di angkasa, kegelapan malam ini tampak ramai, kendaraan berlalu lalang di jalan. Teringat kembali kenangan masa kecil, masa dimana belum mengenal masalah ataupun yang namanya cinta, hanya mengenal bermain dan bercanda.

——————-

Di sudut rumah tampak kakak adik sedang menonton TV. Rumah yang kecil dan sederhana, tempat dimana Zul dibesarkan oleh kedua orang tuanya, sebut saja Pak Juki dan Bu Salamah. Mereka dikaruniai 3 orang anak, Kak Zidan, Kak Ziyah dan Zul. Kak Zidan sedang mondok sekaligus SMA di Jawa Timur. Sedangkan Kak Ziyah kelas 1 MTs dan Zul kelas 3 SD.

Kak Ziyah dan Zul selalu berantem dalam hal apapun. Namun itu semua karena Kak Ziyah sayang kepada adiknya.

“De, ganti chanel dong acaranya ga bagus” Sahut kak Ziyah, Zul yang sedang memegang remote tv pun tak mau mengganti.

“Enggak mau lah, acara kesukaanku, Doraemon” Kata Zul sambil menyembunyikan remote tv.

“Sini remotenya, gantian dong dari tadi ade nonton tv terus” Kak Ziyah pun merebut remote tv dari adiknya.

“Mamah… mamah… itu Kak Ziyah nakal” Kata Zul yang sedang ngambek.

Mamah Zul datang, “Ada apa De?”

“Itu mah.. Zul ingin nonton TV tapi remote TVnya di Kak Ziyah” Zul dengan wajah manjanya.

“Kak Ziyah kan sudah besar, kasihan adikmu, sini mana remotenya?” Kata mamah yang membela Zul.

“Tapi mah …. ” Kak Ziyah pun memberikan remote itu dan masuk ke kamarnya. Dan Zul meledek, “Wee… mamah bela zul”.

“Sudah.. sudah ade jangan gitu” Kata mamah.
Zul dan ibunya menonton TV hingga acara Doraemon selesei. Kemudian Zul keluar rumah untuk bermain dengan teman-temannya. 

“Mah, Zul main dulu sama temen-temen” kata Zul

“Hati-hati ya de” Kata mamah.

———————-

Tak lama kemudian teman-teman Zul sudah berkumpul di lapangan.

“Hei kawan-kawan, ayo main bola” teriak Zul ke teman-temannya.

“Ayo..” mereka jawab dengan serentak.

Permainan bola pun dimulai, Zul yang menjadi striker sekaligus kapten tim. Langit yang cerah menghiasi lapangan bola, hembusan angin menerpa rerumputan hingga bergoyang. Sang mentari menebarkan senyumannya.

“Oper bolanya rud” teriak Zul kepada Rudy.

Rudy mengoper bolanya hingga melambung ke arah Zul,

“Sundul bolanya” teriak salah satu pemain.

“Gooooaaaalll….” bola masuk ke gawang lawan, dan tak lupa selebrasi yang unik dan lucu mengundang tawa penonton.

Hari semakin sore, matahari pun mulai tenggelam di ufuk barat, ayam-ayam juga masuk ke kandang. Tak lama kemudian mamah Zul datang menjemput.

“Zul, ayo pulang, sudah mau maghrib” teriak mamah zul di tepi lapangan.

“Iya mah” Jawab Zul.

Sesampai di rumah Zul bergegas mandi dan berangkat ke mushola untuk adzan.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar….” terdengar suara adzan yang di kumandangkan Zul.
—————————–

Bersambung….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s